HUBUNGAN DEPRESI DAN DUKUNGAN KELUARGA
TERHADAP KADAR GULA DARAH PADA PASIEN DIABETES MELLITUS TIPE 2

Disusun
Oleh :
KELOMPOK
III
M. YUNUS
1221004
PROGRAM
STUDI ILMU KEPERAWATAN
STIKES
TENGKU MAHARATU
PEKANBARU
2013
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Diabetes
Mellitus (DM) merupakan suatu penyakit menahun yang ditandai oleh kadar glukosa
darah melebihi normal dan gangguan metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein
yang disebabkan oleh kekurangan hormon insulin secara relatif maupun absolut. Diabetes
Mellitus ( DM ) adalah penyakit metabolik kronis yang memiliki efek melemahkan
terhadap seluruh kehidupan pasien diabetes , tidak hanya aspek fisik tetapi
juga aspek psikologis . Depresi merupakan salah satu gangguan psikologis, oleh
karena itu kondisi ini memerlukan manajemen yang komprehensif dengan melibatkan
keluarga pada perawatan. Pada umumnya dikenal 2 tipe diabetes, yaitu diabetes
tipe 1 (tergantung insulin) dan diabetes tipe 2 (tidak tergantung insulin). Ada
pula diabetes dalam kehamilan, dan diabetes akibat malnutrisi. Diabetes tipe 1
biasanya dimulai pada usia anak-anak sedangkan diabetes tipe 2 dimulai pada
usia dewasa pertengahan (40-50 tahun). Kasus diabetes dilaporkan mengalami
peningkatan di berbagai negara berkembang termasuk Indonesia.
Jumlah
penderita DM di dunia dari tahun ke tahun mengalami peningkatan. Berdasarkan
data Badan Kesehatan Dunia (WHO) pada tahun 2003, jumlah penderita DM mencapai
194 juta jiwa dan diperkirakan meningkat menjadi 333 juta jiwa di tahun 2015
mendatang, termasuk negara Indonesia. Angka kejadian DM di Indonesia menempati
urutan keempat tertinggi di dunia yaitu 8,4 juta jiwa. Jumlah populasi penduduk
yang meningkat berkaitan dengan faktor genetika, life ekpectancy bertambah, urbanisasi yang merubah pola hidup
tradisional ke pola hidup modern, prevalensi obesitas meningkat dan kegiatan
fisik kurang. DM perlu diamati karena sifat penyakit yang kronik progresif,
jumlah penderita semakin meningkat dan banyak dampak dampak negatif yang
ditimbulkan.
Distribusi
penyakit iini juga mneyebar pada semua tingkat masyarakat dari tingkat sosial
ekonomi rendah sampai tinggi, pada setiap ras, golongan etnis dan daerah
geografis. Gejala DM yang bervariasi yang dapat timbul secara perlahan-lahan
sehingga penderita tidak menyadari akan adanya perubahan seperti minum yang
lebih banyak, buang air kecil lebih sering
ataupun berat badan yang menurun, gejala tersebut berlangsung lama tanpa
memperhatikan diet, olahraga, pengobatan sampai orang tersebut memeriksakan
kadar gula darahnya.
DM
jika tidak ditangani dengan baik akan mengakibatkan timbulnya komplikasi pada
berbagai organ tubuh seperti mata, jantung, ginjal, pembuluh darah kaki, syaraf
dan lain-lain. Penderita DM dibandingkan dengan penderita non DM mempunyai
kecenderungan 25 kali terjadi buta, 2 kali terjadi penyakit jantung koroner, 7
kali terjadi gagal ginjal kronik, dan 5 kali menderita ulkus diabetika.
Komplikasi menahun DM di Indonesia terdiri atas neuropati 60%, penyakit jantung
koroner 20,5 %, retinopati 10%, ulkus diabetika 15%, dan nefropati 7,1%.
1.2 TUJUAN
a. Mengetahui
hubungan depresi dan dukungan keluarga terhadap kadar gula darah pada pasien
Diabetes Mellitus tipe 2.
b. Mengetahui
patofisiologi Diabetes Mellitus tipe 2.
c. Mengetahui
efektivitas dukungan keluarga terhadap kadar gula darah pada pasien Diabetes
Mellitus tipe 2.
1.3 MANFAAT
a. Untuk
mahasiswa, dapat dijadikan dasar atau kutipan dalam memperluas tulisan ilmiah.
b. Untuk
perawat, merupakan hal yang penting dalam memberikan asuhan keperawatan
sehingga pemberi pelayanan kesehatan dapat mendiagnosa dan merawat pasien DM
dengan komprehensif.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 ANALISA MASALAH /
TOPIK
Diabetes Melitus adalah gangguan sistem
endokrin yang dikarakteristikkan oleh fluktuasi kadar gula darah yang abnormal,
biasanya berhubungan dengan defect produksi insulin dan metabolisme glukosa
(Dunning, 2003). DM disebabkan oleh hiposekresi atau hipoaktivitas dari
insulin. Saat aktivitas insulin tidak ada atau berkurang (deficient), kadar
gula darah meningkat karena glukosa tidak dapat masuk ke dalam sel jaringan
(Black & Hawk, 2005).
Kontrol DM yang buruk dapat
mengakibatkan hiperglikemia dalam jangka panjang,yang menjadi pemicu beberapa
komplikasi yang serius baik makrovaskular maupun mikrovaskular seperti penyakit
jantung, penyakit vaskuler perifer, gagal ginjal, kerusakan saraf dan kebutaan.
Banyaknya komplikasi yang mengiringi penyakit DM telah memberikan kontribusi
terjadinya perubahan fisik, psikologis maupun sosial. Salah satu perubahan
psikologis yang paling sering terjadi adalah kejadian depresi pada pasien DM.
Studi melaporkan bahwa pasien DM dua kali lebih besar mengalami gejala depresi
atau di diagnosa depresi dibandingkan dengan populasi umum (Anderson,etal.
2001; Egede, Zheng, &Simpson, 2002).
Salah satu manajemen dalam perawatan
pasien depresi yang berhubungan dengan penyakit DM adalah melibatkan dukungan
sosial dalam perawatan. Dalam literatur disebutkan bahwa interaksi sosial
berperan dalam adaptasi pasien dengan penyakit kronis. Salah satu dukungan
sosial yang dapat diperoleh pasien adalah dukungan dari keluarga. Sebuah studi
melaporkan bahwa 77% pasien dengan penyakit jantung memperoleh dukungan dari
keluarganya (Rubin, 2000).
Griffin, et al. (2001) melakukan studi
longitudinal untuk menyelidiki peran pemberian dukungan keluarga pada adaptasi
psikologikal dan status penyakit. Studi dilakukan pada pasien dewasa (42 tahun)
dengan rheumatoid arthritis. Griffin et al, menemukan korelasi yang kuat antara
afek negatif pasien dan keluarga yang tidak mendukung seperti pemberian
hukuman. Peneliti juga menemukan interaksi sosial yang negatif antara pasien
dan pemberi dukungan adalah prediktor yang signifikan terhadap afek negatif
pasien dan status penyakit. Berdasarkan studi pendahuluan di RSUD Sragen
diketahui data bulan Agustus 2008 menunjukkan terdapat 300 pasien DM. Sebanyak
30% mempunyai kadar gula darah sewaktu tidak normal (>20 0mg/dL) dengan
pemeriksaan menggunakan glukometer. Hal tersebut membuat peneliti tertarik
bagaimana faktor psikososial seperti depresi dan dukungan keluarga berhubungan
dengan kadar gula darah.
2.2 ANALISA HASIL
a.
Hasil
Analisa Penelitian
Hal ini sesuai penelitian yang dilakukan
oleh Ikeda et al. Pada penelitian ini ditemukan hubungan yang signifikan antara
ansietas, depresi, self efficacy dan kadar gula darah pada 113 pasien DM tipe 2
(Ikeda et al, 2000). Beardsley &Goldstein (2003) mereview literatur tentang
hubungan antara stress, regulasi gula darah dan gaya koping. Menyimpulkan bahwa
tingginya tingkat stress dihubungkan dengan buruknya regulasi gula darah.
Ada beberapa mekanisme depresi dapat
berkontribusi pada metabolisme glukosa. Gangguan depresi mempengaruhi axis
hypothalamic-pituitary-adrenal dan dapat memicu pengeluaran kortisol berlebihan
(Risch, 2002). Pada kondisi depresi, tubuh akan mengeluarkan hormon-hormon
stress yang akan mempengaruhi peningkatan kadar gula darah. ACTH akan
menstimulasi pituitary anterior untuk memproduksi glukokortikoid, terutama
kortisol. Peningkatan kortisol akan mempengaruhi peningkatan kadar gula darah
(Smeltzer & Bare, 2008). Selain itu kortisol juga dapat menginhibisi
ambilan glukosa oleh sel tubuh (Individual Wellbeing Diagnostic Laboratories,
2008).
Depresi juga mempengaruhi metabolisme
glukosa melalui mekanisme tingkah laku atau psikososial. Individual yang
mengalami depresi mempunyai tingkat kepatuhan yang lebih rendah dan umumnya
melaporkan kebiasaan gaya hidup yang buruk (Anda, 2000). Penelitian menunjukkan
bahwa tingkat depresi yang berat dihubungkan dengan ketidakpatuhan medikasi dan
diet (Ciechanowski, Katon & Russo, 2000). Penemuan dari studi kontrol juga
menunjukkan bahwa perawatan depresi yang efektif berhubungan dengan peningkatan
kontrol glikemik (Lustman et al, 2000). Berdasarkan hasil pengalaman yang
diperoleh peneliti, bahwa pasien DM yang mengalami depresi mempunyai
kecenderungan untuk merubah pola makan, latihan dan penggunaan obat yang
biasanya dipatuhi. Sebagai kesimpulan adanya gejala depresi mempunyai implikasi
negatif pada manajemen diabetes (utamanya kontrol gula darah).
b.
Kenapa
Dukungan Keluarga Mempengaruhi Terhadap Kadar Gula Darah Pada Pasien Diabetes
Mellitus Tipe 2
Hal ini sesuai dengan penelitian yang
dilakukan Steptoe et al,. (2004). Penelitian memberikan bukti bahwa isolasi
sosial dan kesendirian merupakan faktor risiko terjadinya sakit mental dan
fisik (Steptoe et al., 2004). Secara fisiologis, dukungan sosial yang adekuat
ditemukan berpengaruh secara positif pada catecholamines (Uchino et al., 1996)
dan kadar kortisol saliva disupresi oleh oxytocin dengan adanya dukungan sosial
dalam situasi stressful (Heinrichs et al., 2003).
Menurut Lazarus & Folkaman (1984
dalam Friedman & Jones, 2003) dukungan keluarga dapat bertindak segera
sebagai buffer terhadap stres dan akibatnya terhadap kerusakantubuh. Dukungan
keluarga dapat membantu untuk mencegah stres dan sesuatu yang berbahaya atau
mengancam. Dalam studi yang dilakukan Pittsburgh Epidemiology of Diabetes
Complications (EDC), menyimpulkan bahwa faktor psikososial seperti dukungan
kelurga mempunyai efek yang penting pada kontrol glikemik pada orang dewasa
dengan NIDDM dan juga penting pengaruhnya pada self management pada pasien DM.
Bentuk-bentuk dukungan keluarga yang
diberikan pada pasien, yaitu sebagai berikut.
1. Dukungan
informasional yaitu keluarga berfungsi sebagai sebuah kolektor dan diseminator
(penyebar) informasi tentang dunia. Menjelaskan tentang pemberian saran,
sugesti, informasi yang dapat digunakan untuk mengungkap suatu masalah. Manfaat
dari dukungan ini yaitu dapat menekan munculnya suatu stressor karena informasi
yang diberikan dapat menyumbangkan aksi sugesti yang khusus pada individu.
2. Dukungan
penilaian yaitu keluarga bertindak sebagai sebuah bimbingan umpan balik,
membimbing dan menengahi pemecahan masalah, sebagai sumber dan validator
identitas anggota keluarga diantaranya
memberikan support, penghargaan, dan perhatian.
3. Dukungan
instrumental yaitu keluarga merupakan sebuah sumber pertolongan praktis dan
konkrit, diantaranya: kesehatan penderita dalam hal kebutuhan makan dan minum,
istirahat, terhindarnya penderita dari kelelahan, serta
4. Dukungan
emosional yaitu keluarga sebagai tempat yang aman dan damai untuk istirahat dan
pemulihan serta membantu penguasaan terhadap emosi.
c.
Patofisiologi
Diabetes Mellitus
Hiperglikemia didefinisikan sebagai
kadar glukosa darah yang tinggi dari rentang kadar puasa normal 126 mg/ 100 ml
darah. Hiperglikemia biasanya disebabkan oleh defisiensi insulin, seperti yang
dijumpai pada diabetes tipe 1, atau karena penurunan responsivitas sel terhadap
insulin, seperti yang dijumpai pada diabetes tipe 2.
Hiperkortisolemia, yang terjadi pada
Sindrom Cushing dan sebagai respon terhadap stress kronis, dapat menyebabkan
hiperglikemia melalui stimulasi glukoneogenesis hati. Keadaan akut kelebihan
hormon tiroid, prolaktin, dan hormon pertumbuhan dapat menyebabkan peningkatan
glukosa darah. Peningkatan kadar hormon-hormon tersebut dalam jangka panjang,
terutama hormon pertumbuhan dianggap diabetogenik (menyebabkan diabetes) karena
stimulasi pelepasan insulin yang berlebihan oleh sel-sel pankreas, sehingga
akhirnya terjadi penurunan respon sel terhadap insulin.
Stimulasi saraf simpatis dan epinefrin
dilepaskan dari kelenjar adrenal juga meningkatkan kadar glukosa plasma,
terutama selama periode stress. Katekolamin epinefrin dan norepinefrin
menghambat sekresi insulin. Meningkatkan pemecahan simpanan lemak, dan
meningkatkan penggunaan glikogen untuk energi. Dengan mekanisme ini,
katekolamin membuat beragam sumber energi alternatif yang tersedia untuk tubuh selain glukosa,
akibatnya glukosa plasma meningkat dan
meningkatkan glukosa yang dapat digunakan otak.
d.
Efektivitas
Dukungan Keluarga Terhadap Kadar Gula Darah Pasien Diabetes Mellitus Tipe 2
Berdasarkan penelitian tersebut,
peneliti berasumsi bahwa dukungan keluarga memerankan peran krusial pada
kepatuhan self management dan secara tidak langsung akan mempengaruhi kontrol
metabolik. Pada penelitian ini juga didapatkan bahwa dukungan keluarga
merupakan faktor paling dominan dalam mempengaruhi kadar gula darah. Hal ini
sesuai penelitian yang sudah banyak dilakukan bahwa dukungan keluarga yang
negatif merupakan prediktor terkuat dalam mempengaruhi hasil kesehatan pasien,
utamanya dengan penyakit kronis (Ellard & Smith, 1990).
Efektivitas dukungan keluarga
dipengaruhi oleh beberapa hal diantaranya adalah faktor internal dan faktor
eksternal. Faktor internal meliputi:
1. Tahap
perkembangan yang artinya dukungan dapat ditentukan oleh faktor usia dalam hal
ini adalah pertumbuhan dan perkembangan, denga demikian setiap rentang usia
memiliki pemahaman dan respon terhadap perubahan kesehatan yang berbeda-beda.
2. Pendidikan
atau tingkat pengetahuan dikarenakan keyakinan seseorang terhadap adanya bentuk
dukungan terbentuk oleh variabel intelektual yang terdiri dari pengetahuan, dan
pengalaman masa lalu. Kemampuan kognitif akan membentuk cara berpikir seseorang
termasuk kemampuan memahami faktor-faktor yang berhubungan dengan penyakit dan
menggunakan pengetahuan tentang kesehatan untuk menjaga kesehatan dirinya.
3. Faktor
emosi, mempengaruhi keyakinan terhadap adanya dukungan dan cara
melaksanakannya. Seseorang yang mengalami respon stress dalam setiap perubahan
hidupnya cenderung berespon terhadap berbagai tanda sakit, mungkin dilakukan
dengan cara mengkhawatirkan bahwa penyakit tersebut dapat mengancam
kehidupannya.
4. Faktor
spiritual, aspek spiritual dapat terlihat bagaimana seseorang menjalani
kehidupannya, mencakup nilai dan keyakinan yang dilaksanakn, hubungan dengan
keluarga atau teman, dan kemampuan mencari harapan dan arti dalam hidup.
Sedangkan faktor eksternal meliputi:
1. Praktik
di keluarga berupa cara bagaimana keluarga memberikan dukungan biasanya
mempengaruhi penderita dalam melaksanakan kesehatannya.
2. Faktor
sosial dan psikososial, yaitu dapat meningkatkan resiko terjadinya penyakit dan
dapat mempengaruhi cara seseorang mendefinisikan dan bereaksi terhadap
penyakitnya. Variabel psikososial meliputi: stabilitas perkawinan, gaya hidup,
dan lingkungan kerja.
3. Latar
belakang budaya, mempengaruhi keyakinan, nilai, dan kebiasaan individu, dalam
memberikan dukungan termasuk cara pelaksanaan kesehatan pribadi.
2.3 KRITISI/SARAN
a)
Untuk
Keluarga
Diharapkan keluarga lebih
termotivasi untuk memberikan dukungan yang diberikan kepada pasien Diabetes
Mellitus Tipe 2 terhadap peningkatan kedar gula darah.
b)
Untuk
Pelayanan Kesehatan
Perawat diharapkan lebih
termotivasi untuk meningkatkan pengetahuan keluarga yang memilki anggota
keluarga yang menderita Diabetes Mellitus dengan cara memberikan dukungan dalam
meningkatkan kepatuhan diet pada pasien Diabetes Mellitus. Dan juga perlu
dilakukan skrining tentang depresi pada pasien DM dan melibatkan keluarga
merupakan hal yang penting dalam pemberian asuhan keperawatan sehingga pemberi
pelayanan kesehatan dapat mendiagnosa dan merawat pasien DM dengan komprehensif
yang hasil akhirnya akan meningkatkan kontrol gula darah.
BAB III
PENUTUP
3.1 SIMPULAN
Diabetes Melitus adalah gangguan sistem
endokrin yang dikarakteristikkan oleh fluktuasi kadar gula darah yang abnormal,
biasanya berhubungan dengan defect produksi insulin dan metabolisme glukosa
(Dunning, 2003). Depresi mempengaruhi metabolisme glukosa melalui mekanisme
tingkah laku atau psikososial. Individual yang mengalami depresi mempunyai
tingkat kepatuhan yang lebih rendah dan umumnya melaporkan kebiasaan gaya hidup
yang buruk (Anda, 2000).
Dukungan keluarga memerankan peran
krusial pada kepatuhan self management dan secara tidak langsung akan
mempengaruhi kontrol metabolik. Pada penelitian ini juga didapatkan bahwa
dukungan keluarga merupakan faktor paling dominan dalam mempengaruhi kadar gula
darah. Dukungan tersebut dapat berbentuk: dukungan informasional, dukungan
penilaian, dukungan instrumental, dan dukungan emosional.
DAFTAR PUSTAKA
Corwin,
Elizabeth J. 2009. Patofisiologi : buku
saku. Jakarta : EGC
Isworo, Atyanti dan Saryono. 2010. Hubungan Depresi dan Dukungan Keluarga
Terhadap Kadar Gula Darah Pada Pasien Diabetes Mellitus Tipe 2 di RSUD Sragen [PDF].
Jurnal Keperawatan Soedirman. Website:http://jurnalonline.unsoed.ac.id/index.php/keperawatan/article/download/205/64diakses
tanggal 19 Mei 2014.
Susanti, Mei Lina dan Tri Sulistyarini. 2013. Dukungan Keluarga meningkatkan Kepatuhan
Diet Pasien Diabetes Mellitus Di Ruang Rawat Inap RS. BAPTIS Kediri [PDF].
Jurnal STIKES. Website: http://puslit2.petra.ac.id/ejournal/index.php/stikes/article/view/18840/18537diakses
tanggal 2 Juni 2014.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar